Kota Padang membentang di sepanjang dataran pantai barat Sumatera yang diapit oleh pegunungan Bukit Barisan dan Samudra Hindia. Topografi ini menempatkan kawasan permukiman pada zona risiko tinggi terhadap aktivitas seismik megatrust dan potensi gelombang pasang.
Dalam sejarah panjangnya, masyarakat lokal mengembangkan pola hunian dan struktur bangunan yang merespons ancaman ini secara intuitif. Penelitian ini memetakan ulang bentuk-bentuk adaptasi spasial tersebut untuk diuji dalam kerangka perencanaan wilayah kontemporer.
Empat fase investigasi ilmiah
Inventarisasi arsip spasial
Survei lapangan empiris
Analisis morfologi ruang
Sintesis model mitigasi
Pengumpulan peta sejarah, naskah kuno, dan catatan etnografi mengenai persebaran permukiman tradisional di pesisir Padang.
Dokumentasi arsitektur vernakular, struktur panggung, dan pola jalur evakuasi alami di berbagai nagari pesisir.
Pengolahan data spasial untuk mengukur efektivitas orientasi bangunan dan tata letak kawasan terhadap skenario bahaya.
Perumusan rekomendasi kebijakan tata ruang yang memadukan regulasi modern dengan prinsip kearifan lokal.
Tata ruang bukan sekadar pembagian zonasi di atas peta, melainkan cara sebuah masyarakat membaca tanah dan menjaga keselamatan bersama.
Kutipan Disertasi BAB II


